Diberdayakan oleh Blogger.

Jumat, 05 April 2013

tes



Ketika kesenian tradisional semacam calung atau gondang semakin dilupakan orang karena terdesak oleh kebudayaan asing yang menyilaukan mata, masih ada satu warisan kebudayaan Sunda yang tetap menarik untuk dinikmati: kulinernya. Bahkan kuliner Sunda sampai saat ini masih menjadi faktor penarik wisatawan dari daerah lain. Masakan Sunda selalu diburu oleh para penikmat wisata kuliner. Sebut saja nasi timbel, tutug oncom, karedok, ulukuteuk leunca, dan masih banyak lagi. Untuk makanan ringan dan minuman juga ada banyak pilihan, di antaranya surabi, comro, bandrek, dan bajigur.
Cita rasa masakan Sunda pada umumnya adalah gurih, tapi rasanya tidak terlalu tajam. Tidak terlalu manis seperti masakan Jawa, dan tidak bersantan seperti masakan Melayu. “Yang membuat masakan Sunda khas adalah perpaduan bumbunya.
Yang harus ada dalam masakan Sunda adalah lalapan. Hampir sama dengan salad pada makanan barat, lalapan terdiri dari berbagai sayuran mentah, biasanya selada, kacang panjang, timun, tomat, daun pepaya, daun singkong, dan kemangi. Lalapan akan terasa lebih nikmat jika disantap bersama ‘pasangannya’, yaitu sambal yang pedasnya bisa membangkitkan selera makan,di Sunda dikenal tiga jenis sambal, yaitu sambal terasi, sambal oncom, dan sambal muncang yang menggunakan kemiri sebagai bumbu. Masakan Sunda tanpa lalapan dan sambal kurang lengkap rasanya.
Hingga kini, makanan Sunda masih digemari. Bukan hanya oleh orang Sunda asli, tapi juga oleh selain orang Sunda. Di Jawa Barat maupun daerah lain, rumah makan Sunda menjamur di mana-mana, dari kaki lima yang sederhana sampai yang tempatnya berpendingin ruangan. Di mall-mall pun, makanan Sunda bersanding dengan steak atau makanan Jepang, tak kalah bersaing. Itu karena makanan Sunda dapat menyesuaikan diri dengan perkembangan jaman, misalnya surabi yang dulu cuma berisi oncom sekarang rasanya bervariasi: coklat, stroberi, vanilla, keju, susu, dan lain-lain. Pantas saja kuliner Sunda terus digemari.